Home › Artikel › Potret Buram Kepala Daerah yang Tak Layak Duduk di Kursi Rakyat
Potret Buram Kepala Daerah yang Tak Layak Duduk di Kursi Rakyat
Keterangan Foto: Ilustrasi
PEKANBARU, Tabloid Diksi - Di negeri yang kaya akan sumber daya, ironisnya, kemiskinan dan keterbelakangan masih menjadi wajah sehari-hari banyak daerah. Salah satu penyebab utamanya bukan semata kekurangan dana atau bencana alam, melainkan pemimpin daerah yang lupa diri-rakus kuasa, minim kompetensi, tapi haus pujian.
Kepala daerah seharusnya menjadi nahkoda yang menavigasi pembangunan. Tapi bagaimana jika sang nakhoda justru tak tahu arah, sibuk menghias kabin mewah sementara kapal nyaris karam? Rakyat butuh pemimpin yang sigap, bukan pejabat yang gemar potong pita tapi tak pernah turun ke sawah.
- Baca juga:
Mirisnya, tak sedikit kepala daerah yang lebih lihai menyusun anggaran untuk kepentingan pribadi ketimbang menyusun program yang menyentuh kebutuhan rakyat. Janji kampanye tinggal jargon basi. Setelah terpilih, mereka sibuk memperkaya kroni dan mengamankan masa depan politik sendiri.
Kompetensi yang rendah makin parah saat disandingkan dengan kerakusan. Keputusan publik dibuat tanpa data, tanpa arah. Anggaran habis untuk pencitraan, bukan pelayanan. Seringkali, rakyat hanya jadi latar belakang dalam foto-foto seremonial yang dibagikan di media sosial.
Lebih parah lagi, ketika kritik dianggap ancaman dan suara rakyat dibungkam. Kepala daerah seolah lupa, bahwa kekuasaan itu amanah, bukan warisan kerajaan. Mereka alergi terhadap transparansi, dan justru pandai bersilat lidah di depan mikrofon.
Negeri ini tak kekurangan tokoh cerdas dan berintegritas. Tapi selama rakyat masih terpikat pada kemasan, bukan isi, selama jabatan masih diperlakukan seperti ladang panen, kepala daerah model begini akan terus bermunculan: rakus, lamban, dan lupa siapa yang memilihnya.
Rakyat butuh pemimpin, bukan penjilat. Butuh pelayan, bukan penguasa yang sibuk mengatur proyek. Jika tak bisa memimpin dengan hati dan otak, lebih baik angkat kaki. Sebab kursi kepala daerah bukan tempat untuk belajar serakah.






Komentar Via Facebook :