Home › Peristiwa › Pengungsi Afghanistan Demo di Pekanbaru, Desak Kepastian Masa Depan
Pengungsi Afghanistan Demo di Pekanbaru, Desak Kepastian Masa Depan
Keterangan Foto: Pengungsi asal Afghanistan, termasuk komunitas Hazara, menggelar aksi damai di depan kantor UNHCR dan IOM. TD/YS
PEKANBARU, Tabloid Diksi — Sekitar 300 pengungsi asal Afghanistan menggelar aksi damai di depan kantor UNHCR dan IOM yang berada di Kompleks Perkantoran Graha Pena, Jalan HR Soebrantas, Panam, Pekanbaru, Senin (10/8/2026).
Aksi tersebut diikuti pengungsi dari komunitas Hazara, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan, terutama mengenai kepastian masa depan serta peluang mendapatkan pemukiman kembali atau resettlement ke negara ketiga.
- Baca juga:
Juru bicara pengunjuk rasa, Qoyum Sultani, mengatakan para pengungsi tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya ingin memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan yang aman setelah bertahun-tahun berada dalam ketidakpastian.
"Satu-satunya keinginan kami adalah memiliki kesempatan untuk hidup dalam keselamatan, martabat dan kedamaian setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan dan ketidakpastian," kata Qoyum kepada wartawan.
Menurut Qoyum, sebagian pengungsi telah berada di Indonesia selama 12 hingga 13 tahun. Lamanya masa tunggu tersebut membuat banyak pengungsi kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupan normal, termasuk membangun keluarga dan menyiapkan masa depan.
Dampak dari kondisi tersebut juga dirasakan anak-anak pengungsi yang lahir dan tumbuh di Pekanbaru. Qoyum menyebut terdapat anak pengungsi yang sudah lama tinggal di ibu kota Provinsi Riau, namun masih menghadapi keterbatasan dalam pendidikan.
“Bagaimana nasib anak-anak kami Pak,” tuturnya.
Ia mengatakan persoalan pendidikan menjadi salah satu kekhawatiran karena ada anak-anak pengungsi yang disebut belum mampu membaca dan menulis meski telah lahir di Pekanbaru.

Selain masa depan, komunitas Hazara juga menyampaikan kekhawatiran mengenai keselamatan jika mereka harus kembali ke Afghanistan. Menurut mereka, komunitas Hazara telah mengalami penganiayaan, diskriminasi dan kekerasan yang menyasar kelompok tersebut selama bertahun-tahun.
Kondisi keamanan dinilai masih menjadi persoalan serius setelah Taliban kembali berkuasa di Afghanistan. Karena itu, para pengungsi berharap tidak dipulangkan ke negara asal tanpa adanya jaminan keselamatan dan perlindungan.
Persoalan lain yang disoroti adalah kondisi psikososial para pengungsi akibat lamanya masa penantian. Qoyum menyebut 19 pengungsi telah meninggal dunia akibat bunuh diri. Sementara sejumlah lainnya disebut pernah melakukan percobaan bunuh diri tetapi berhasil diselamatkan.
"Tragedi yang memilukan ini mencerminkan harga yang harus dibayar manusia karena hidup dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun," ujarnya.
Minta Resettlement Dibuka Lebih Luas
Dalam aksi tersebut, pengungsi juga meminta perhatian terhadap mereka yang terdaftar setelah Juli 2014. Mereka berharap UNHCR terus mencari peluang pemukiman kembali bagi kelompok pengungsi yang telah menunggu selama bertahun-tahun.
Para pengungsi menilai jalur menuju negara ketiga kini semakin terbatas. Mereka menyinggung Visa Keterampilan Australia yang sebelumnya menjadi salah satu harapan bagi sebagian pengungsi di Indonesia, namun kini disebut tidak lagi tersedia bagi mereka.
Kondisi tersebut dinilai semakin mempersempit pilihan bagi pengungsi yang telah menjalani kehidupan dalam ketidakpastian selama lebih dari satu dekade.
Karena itu, mereka meminta UNHCR meningkatkan komunikasi dengan Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru untuk membuka peluang penerimaan dan pemukiman kembali yang lebih besar.
Mereka juga menyoroti sejumlah proses resettlement ke Amerika Serikat yang sebelumnya telah berjalan, namun mengalami penundaan setelah adanya perubahan kebijakan imigrasi AS pada masa pemerintahan Donald Trump.
"Kami tidak meminta perlakuan khusus. Kami hanya meminta kesempatan untuk hidup dengan bermartabat dan penuh harapan," kata Qoyum.
Melalui aksi tersebut, para pengungsi berharap UNHCR dan IOM memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi mereka dan terus mengupayakan solusi pemukiman kembali yang manusiawi serta berkelanjutan.






Komentar Via Facebook :