Home › Ekonomi › Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Brent Mendekati US$90 per Barel
Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Brent Mendekati US$90 per Barel
Keterangan Foto: Ilustrasi minyak mentah dan fasilitas pengolahan minyak. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan 12 Agustus 2026 di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. TD/YS.
JAKARTA, Tabloid Diksi – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Mengacu pada perkembangan pasar terbaru, harga minyak Brent naik sekitar 0,8 persen ke level US$89,60 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut menguat sekitar 0,9 persen menjadi US$83,94 per barel.
- Baca juga:
Pergerakan harga minyak kembali mendapat perhatian setelah muncul keraguan terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap distribusi minyak dunia.
Reuters melaporkan, serangkaian serangan terhadap jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman energi. Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi salah satu titik yang menjadi perhatian pasar karena memiliki peran penting dalam lalu lintas perdagangan energi dunia.
Kondisi tersebut membuat harga minyak berada dalam tren penguatan. Brent bahkan telah mencatat kenaikan selama beberapa sesi perdagangan berturut-turut.
Di sisi lain, pasar juga mencermati data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data dari American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS mengalami kenaikan yang cukup besar, meskipun persediaan bensin dan produk sulingan justru mengalami penurunan.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi perhatian karena perubahan harga komoditas energi dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk biaya transportasi, industri dan harga energi.
Pelaku pasar kini masih menunggu perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah perdagangan komoditas energi selanjutnya.






Komentar Via Facebook :