Home › Ekonomi › Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS, Pasar Masih Dibayangi Sentimen Global
Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS, Pasar Masih Dibayangi Sentimen Global
Keterangan Foto: Ilustrasi rupiah dan dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.877 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. TD/YS.
JAKARTA, Tabloid Diksi – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu (12/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.877 per dolar AS, turun 16 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.861 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi ketika pasar keuangan masih mencermati sejumlah sentimen global, terutama perkembangan geopolitik serta arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
- Baca juga:
Pelaku pasar juga masih menunggu sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing di dalam negeri turut menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah masih berpotensi mengalami tekanan dalam perdagangan berikutnya.
Analis pasar menilai sentimen geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menjadi salah satu faktor yang membuat investor lebih berhati-hati. Ketidakpastian global biasanya mendorong pelaku pasar meningkatkan perhatian terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena perubahan nilai tukar dapat memberikan dampak terhadap berbagai aktivitas ekonomi, terutama sektor yang memiliki ketergantungan terhadap barang impor maupun transaksi dalam mata uang dolar AS.
Meski demikian, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh satu faktor. Data ekonomi Amerika Serikat, kondisi pasar keuangan global, arus modal, serta perkembangan ekonomi domestik akan turut memengaruhi arah nilai tukar ke depan.
Dengan posisi rupiah yang masih berada di level Rp17.800-an per dolar AS, pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat dalam menentukan arah perdagangan selanjutnya.






Komentar Via Facebook :