Home › Ekonomi › Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global, Pertumbuhan Capai 5,45 Persen
Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global, Pertumbuhan Capai 5,45 Persen
Keterangan Foto: Aktivitas ekonomi dan pembangunan di Indonesia. Perekonomian nasional tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. TD/YS.
JAKARTA, Tabloid Diksi – Perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang cukup kuat meski tekanan ekonomi global belum sepenuhnya mereda. Ketegangan geopolitik, perubahan harga energi dan pangan, hingga tingginya suku bunga global menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah sepanjang 2026.
Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia mampu mencatat pertumbuhan sebesar 5,45 persen pada semester I 2026. Capaian tersebut menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi yang dicatat Indonesia dalam 13 tahun terakhir.
- Baca juga:
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejumlah indikator menunjukkan perekonomian nasional masih berada dalam kondisi positif. Ia menilai Indonesia memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Selain pertumbuhan ekonomi, kinerja investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp1.010,6 triliun. Pemerintah melihat capaian tersebut sebagai salah satu indikasi bahwa kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga.
Kondisi sektor keuangan juga relatif solid. Kredit perbankan pada Juni 2026 tercatat tumbuh 12,67 persen secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat sebesar 10,21 persen. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat terus ditingkatkan hingga mencapai 6 persen pada akhir 2026. Pemerintah menilai penguatan konsumsi, investasi dan penciptaan lapangan kerja menjadi bagian penting untuk mencapai target tersebut.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dampak perkembangan ekonomi global. Konflik geopolitik yang dapat memengaruhi harga minyak, pangan dan jalur perdagangan internasional masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Salah satu perhatian pemerintah adalah harga energi. Airlangga sebelumnya menyatakan pasokan Pertalite dan biodiesel dipastikan relatif aman hingga akhir 2026. Pemerintah juga terus memantau harga minyak dunia karena perubahan harga komoditas tersebut dapat memengaruhi biaya energi dan aktivitas ekonomi nasional.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah optimistis Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Namun, penguatan ekonomi domestik tetap diperlukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada kondisi perekonomian global.
Ke depan, pemerintah akan terus mendorong investasi, konsumsi masyarakat, hilirisasi industri dan penciptaan lapangan kerja sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.






Komentar Via Facebook :