Home › Ekonomi › Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Tembus US$12,5 Miliar, Rupiah Dibayangi Risiko Melemah
Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Tembus US$12,5 Miliar, Rupiah Dibayangi Risiko Melemah
Keterangan Foto: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (20/8/2026) menguat 30 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang dinilai perlu diwaspadai terhadap stabilitas rupiah. TD/YS/inilah.com.
JAKARTA, Tabloid Diksi – Pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia hingga US$12,5 miliar pada kuartal II 2026 dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran rupiah kembali melemah dan mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai lonjakan defisit transaksi berjalan perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi berkembang menjadi persoalan struktural yang dapat memengaruhi stabilitas rupiah.
- Baca juga:
Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan tercatat mencapai US$12,5 miliar atau sekitar 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan kuartal I 2026 yang berada di posisi US$3,6 miliar atau 1 persen dari PDB.
Menurut Ibrahim, pelebaran defisit tersebut tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai dampak sementara dari ketidakpastian ekonomi global. Ia melihat terdapat sejumlah faktor domestik yang turut meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.
Beberapa di antaranya yakni meningkatnya beban utang pemerintah dan swasta, kebutuhan impor energi, pembayaran utang yang jatuh tempo, serta pembagian dividen.
"Pemerintah mengatakan bahwa defisit transaksi berjalan disebabkan ekonomi global yang disebut hanya temporer. Akan tetapi, saya melihatnya bukan temporer lagi. Tapi sudah struktural," ujar Ibrahim kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (25/8/2026).
Ia menjelaskan, semakin lebarnya defisit transaksi berjalan akan meningkatkan kebutuhan terhadap valuta asing (valas). Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut.
Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak juga menghadapi risiko tambahan ketika harga energi meningkat. Kenaikan harga minyak akibat dinamika geopolitik dapat membuat kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi semakin besar.
Selain kebutuhan impor, pembayaran utang dan dividen juga turut meningkatkan permintaan dolar AS. Ibrahim mencatat utang pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini berada di kisaran Rp900 triliun.
"Pada saat dolar AS menguat cukup tajam hingga di atas Rp18.000, ditambah kenaikan harga minyak mentah di atas 70 dolar AS per barel, maka permintaan dolar AS semakin tak terbendung," katanya.
Ibrahim menambahkan, persoalan defisit transaksi berjalan tidak hanya berkaitan dengan neraca perdagangan. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak juga memberikan pengaruh terhadap kondisi transaksi berjalan.
"Meski pemerintah mendorong program swasembada solar lewat B50, untuk Pertalite dan BBM nonsubsidi kan masih perlu impor. Semuanya itu memberikan tekanan ekstra terhadap transaksi berjalan," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai US$12,5 miliar atau setara 3,3 persen dari PDB.
Nilai tersebut meningkat sekitar 3,5 kali lipat dibandingkan defisit pada kuartal I 2026 yang tercatat US$3,6 miliar atau 1 persen dari PDB.
Defisit pada kuartal II 2026 juga menjadi yang tertinggi sejak kuartal I 2004. Sebelumnya, rekor defisit terbesar tercatat US$10,1 miliar pada kuartal II 2013.
Ramdan menjelaskan, pelebaran defisit pada kuartal kedua dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk defisit neraca perdagangan migas. Di saat yang sama, surplus perdagangan nonmigas juga mengalami perlambatan.
"Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi di kuartal kedua ini, dipengaruhi sejumlah faktor temporer. Karena, neraca perdagangan migas yang defisit. Selain itu, surplus neraca dagang untuk nonmigas pun melandai," ujar Ramdan di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Selain neraca perdagangan, defisit neraca pendapatan primer juga meningkat seiring bertambahnya pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif tidak banyak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap melihat prospek eksternal Indonesia masih cukup positif. Ramdan memperkirakan defisit transaksi berjalan ke depan dapat kembali menurun seiring membaiknya kinerja ekspor.
“Defisit transaksi berjalan diperkirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS),” kata Ramdan.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar US$145,6 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah.




Komentar Via Facebook :