Home › Nasional › BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai November 2026, Sebagian Besar Wilayah Berpotensi Terlambat
BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai November 2026, Sebagian Besar Wilayah Berpotensi Terlambat
Keterangan Foto: Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
JAKARTA, Tabloid Diksi— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan 2026–2027 secara bertahap pada November mendatang. Namun, awal musim hujan diprediksi mundur dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sebanyak 529 zona musim (ZOM) atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
- Baca juga:
Dalam pemaparan prediksi musim hujan di Jakarta, Selasa (22/9/2026), Teuku Faisal menyebut 185 ZOM diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara itu, 266 ZOM lainnya diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember 2026.
Dari sisi curah hujan, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kondisi normal selama musim hujan mendatang. Meski demikian, sekitar 51,90 persen luas daratan diprediksi mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dibandingkan biasanya.
Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung bertahap, dengan 155 ZOM mencapai puncak pada Desember 2026, sebanyak 162 ZOM pada Januari 2027, dan 190 ZOM pada Februari 2027.
Teuku Faisal menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi dinamika iklim, termasuk fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terpantau di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Kombinasi keduanya berpotensi memperpanjang kekeringan serta memengaruhi waktu kedatangan musim hujan.
Menurutnya, datangnya musim hujan dapat mendukung kegiatan pertanian dan pengisian waduk maupun bendungan. Namun, peningkatan curah hujan juga perlu diantisipasi karena berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan pemangku kepentingan menggunakan prediksi tersebut sebagai dasar perencanaan, pengelolaan sumber daya air, serta penguatan kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi cuaca dan iklim.






Komentar Via Facebook :