Home › Politik › Irma Suryani Desak Kemenkes Turun Tangan Bantu Ratusan Ribu Warga Terdampak ISPA Akibat Karhutla
Irma Suryani Desak Kemenkes Turun Tangan Bantu Ratusan Ribu Warga Terdampak ISPA Akibat Karhutla
Keterangan Foto: Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Chaniago. Foto : Humas DPR RI. TD.YS
JAKARTA, Tabloid Diksi – Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin parah di sejumlah wilayah Indonesia. Selain menyebabkan penurunan kualitas udara, bencana tersebut juga mengancam kesehatan masyarakat, terutama akibat paparan asap yang memicu gangguan pernapasan.
Irma mengaku menerima banyak laporan dari masyarakat mengenai kondisi karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan warga. Ia pun meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera mengambil langkah untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak.
- Baca juga:
Pada Senin (12/10/2026), Irma melakukan kunjungan kerja reses ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, salah satu daerah yang terdampak karhutla. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi perwakilan Kemenkes.
“Di Banjarmasin sendiri udara masih berasap, meskipun sudah sedikit mereda. Pada saat rapat dengan Pemda di sana, saya sudah menyampaikan kepada Kemenkes untuk segera membantu masyarakat yang terdampak karhutla parah,” kata Irma dalam keterangan persnya, Jumat (16/10/2026).
Selain Kalimantan Selatan, Irma juga menerima laporan mengenai kondisi karhutla di Kalimantan Tengah yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Asap pekat dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah hingga membuat langit tampak menguning.
“Hari ini saya dilaporkan oleh masyarakat Kalimantan Tengah, udara di sana sudah sangat mengkhawatirkan. Udara sudah mulai tampak menguning dan pasti sangat berbahaya bagi masyarakat,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian warga yang membagikan foto dan video melalui media sosial. Paparan asap karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dikeluhkan menyebabkan gangguan pernapasan dan iritasi mata.
Irma menegaskan, masyarakat yang terdampak harus segera mendapatkan pendampingan dan pelayanan kesehatan. Menurutnya, dampak asap karhutla tidak terbatas pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan lainnya.
“Masyarakat terdampak harus segera didampingi kesehatannya. Karena dampaknya bukan saja ISPA, tapi juga sakit mata dan penyakit lainnya,” jelasnya.
Berdasarkan data Kemenkes per 13 Oktober 2026, jumlah kumulatif kasus ISPA yang dikaitkan dengan karhutla mencapai 283.270 kasus. Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 219.559 kasus dialami penduduk berusia di atas lima tahun, sedangkan 63.711 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.
Kalimantan Selatan mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 74.636 kasus. Sementara itu, Sumatera Selatan menempati posisi kedua dengan 74.458 kasus.
Selain meningkatkan risiko gangguan pernapasan, karhutla juga berdampak pada kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan laporan yang disampaikan, kualitas udara di 12 kabupaten/kota masuk kategori berbahaya.
Wilayah tersebut meliputi enam kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sulawesi Selatan, dan satu di Riau.
Asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun. Paparan polutan tersebut dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.
Karena itu, penanganan karhutla perlu diiringi langkah perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Upaya tersebut antara lain melalui pemantauan kualitas udara, penyediaan layanan kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi paparan asap selama kondisi udara masih buruk. ***






Komentar Via Facebook :