Home › Ekonomi › Lidah Buaya Gunungkidul Tembus Pasar Ekspor, 125 Petani Diberdayakan
Lidah Buaya Gunungkidul Tembus Pasar Ekspor, 125 Petani Diberdayakan
Keterangan Foto: Ilustrasi
GUNUNGKIDUL, Tabloid Diksi – Tanaman lidah buaya yang tumbuh di kawasan karst Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui pengolahan dan inovasi produk, tanaman yang mampu bertahan di tengah kondisi kering tersebut mulai membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Pengembangan usaha ini dilakukan PT Mount Vera Sejati melalui jenama Rasane Vera sejak 2014. Perusahaan tersebut mengolah lidah buaya menjadi berbagai produk untuk kebutuhan industri makanan, minuman, kosmetik, hingga farmasi.
- Baca juga:
Founder Rasane Vera, Alan Efendhi, mengatakan gagasan mengembangkan lidah buaya berawal dari kepeduliannya terhadap masyarakat setempat yang kerap mengalami kesulitan memperoleh penghasilan saat musim kemarau panjang.
Ia kemudian melakukan riset untuk menemukan tanaman yang mampu tumbuh di tengah keterbatasan air sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Saya mencoba riset mandiri untuk mencari dan memilih tanaman yang tangguh dan sanggup berkembang optimal saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut,” ujar Alan.
Dalam menjalankan usahanya, PT Mount Vera Sejati melibatkan lebih dari 125 petani kecil dengan area budidaya sekitar dua hektare. Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi pertanian lokal sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.
Pemberdayaan juga menyasar kelompok perempuan tani. Mereka mendapatkan pelatihan untuk mengolah lidah buaya menjadi produk bernilai tambah, salah satunya dodol lidah buaya. Produk buatan kelompok tersebut kemudian dipasarkan melalui Aloe Land, kawasan agrowisata yang dikelola perusahaan.
Dari sisi produksi, Rasane Vera menerapkan proses pemilihan bahan baku, pengolahan higienis, pengawasan kualitas, hingga pengemasan untuk menjaga mutu produk. Perusahaan juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah sisa pelepah lidah buaya menjadi pupuk organik dan eco-enzyme.
Produk yang dihasilkan menyasar konsumen langsung maupun kebutuhan industri. Untuk pasar konsumen, Rasane Vera menawarkan Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink. Sementara itu, kebutuhan industri dilayani melalui produk Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel yang dapat digunakan sebagai bahan baku makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi.
Peluang pasar internasional mulai terbuka ketika produk Rasane Vera menarik perhatian calon pembeli dari Swedia dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Calon pembeli tersebut bahkan meminta potongan lidah buaya dengan ukuran lebih kecil sesuai kebutuhan pasar mereka.
Ketertarikan tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan produsen menyesuaikan spesifikasi produk dengan permintaan calon mitra bisnis.
Selain mengembangkan pasar, Rasane Vera juga menargetkan ekspor ke sejumlah negara, yakni Persatuan Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.
Perusahaan ini sebelumnya terpilih sebagai Young Ambassador Agriculture 2023. Dengan mengandalkan potensi lokal, pemberdayaan petani, inovasi produk, dan pengolahan yang berkelanjutan, lidah buaya Gunungkidul diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat.






Komentar Via Facebook :