Home › Ekonomi › Cuaca Ekstrem Tekan Produksi, Harga Cabai Rawit Merah Sempat Tembus Rp124 Ribu per Kg
Cuaca Ekstrem Tekan Produksi, Harga Cabai Rawit Merah Sempat Tembus Rp124 Ribu per Kg
Keterangan Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, Jakarta, Selasa (3/10/2026). ANTARA/TD-YS
JAKARTA, Tabloid Diksi – Harga sejumlah jenis cabai di berbagai daerah mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menyebut kondisi cuaca yang ditandai kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama terganggunya produksi cabai.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas, terutama cabai rawit merah dan cabai merah keriting. Penurunan produksi akibat kondisi cuaca berdampak terhadap ketersediaan pasokan di pasar.
- Baca juga:
"Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca," ujar Budi saat ditemui usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan perkembangan harga hingga awal November 2026, cabai rawit merah sempat mencapai Rp124.400 per kilogram atau meningkat 23,72 persen. Angka tersebut jauh melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang berada di kisaran Rp101.900 hingga Rp105.600 per kilogram. Sementara cabai merah besar tercatat mencapai Rp91.250 per kilogram.
Di tengah kenaikan tersebut, harga cabai rawit hijau justru mengalami penurunan tipis menjadi Rp52.500 per kilogram.
Mendag menjelaskan, persoalan harga pangan tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan produksi secara nasional. Ketimpangan distribusi turut menyebabkan harga di sejumlah wilayah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah berupaya memperlancar pengiriman komoditas dari daerah yang memiliki surplus produksi menuju wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan.
Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah mengirimkan tujuh ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera. Pengiriman tersebut dilakukan melalui koordinasi bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia, dan pemerintah daerah.
"Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bapanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah," jelasnya.
Selain cabai, pemerintah juga memantau distribusi telur ayam ras. Menurut Budi, ketersediaan telur secara nasional masih mencukupi, tetapi hambatan pengiriman menyebabkan harga di beberapa daerah mengalami kenaikan.
Ia menyebut harga rata-rata nasional telur ayam ras berada di angka Rp26.400 per kilogram, masih di bawah harga acuan sebesar Rp30.000 per kilogram.
Sementara itu, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia per 3 November 2026 menunjukkan harga cabai rawit merah berada pada angka Rp90.850 per kilogram atau turun 9,47 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Cabai merah keriting tercatat Rp85.100 per kilogram, cabai rawit hijau Rp74.750 per kilogram atau turun 6,21 persen, sedangkan cabai merah besar berada di level Rp67.400 per kilogram atau mengalami penurunan 7,35 persen.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya cabai merah, cabai rawit, dan tomat, menjadi salah satu pendorong inflasi Oktober 2026.
Inflasi bulanan pada periode tersebut tercatat sebesar 0,22 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,51 persen dengan kontribusi sebesar 0,15 persen terhadap inflasi umum.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar dalam kelompok tersebut, yakni 0,13 persen. Disusul cabai rawit sebesar 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan tidak hanya bergantung pada kecukupan produksi, tetapi juga membutuhkan kelancaran distribusi agar pasokan dapat menjangkau seluruh wilayah secara merata.






Komentar Via Facebook :