Home › Nasional › Menag Nasaruddin Umar: Cahaya Deepawali Harus Tercermin dalam Perilaku dan Kehidupan
Menag Nasaruddin Umar: Cahaya Deepawali Harus Tercermin dalam Perilaku dan Kehidupan
Keterangan Foto: Menag Nasaruddin Umar Hadiri Perayaan Hari Raya Deepawali di Murugan Temple, Jakarta Barat, Minggu (8/11/2026). MC Kemenag/TD-YS
JAKARTA, Tabloid Diksi – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Hindu menjadikan perayaan Hari Raya Deepawali sebagai momentum memperkuat nilai kebenaran, menjernihkan pikiran, serta memperbaiki kualitas kehidupan batin.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri perayaan Deepawali di Murugan Temple, Jakarta Barat, Minggu (8/11/2026).
- Baca juga:
Menurut Menag, Deepawali tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan yang identik dengan cahaya dan kemeriahan penerangan. Lebih dari itu, cahaya harus menjadi simbol pencerahan dalam kehidupan manusia, baik melalui pikiran, hati maupun tindakan sehari-hari.
Ia menjelaskan, kata Deepa memiliki arti cahaya, sedangkan Avali berarti rangkaian atau deretan. Filosofi tersebut, menurutnya, mengandung pesan agar cahaya tidak hanya menerangi tempat ibadah, tetapi juga menerangi kehidupan batin setiap manusia.
“Cahaya di dalam ruang ibadah ini juga harus mewarnai keindahan batin kita semua. Harus mencerahkan batin kita, pikiran kita,” ujar Nasaruddin.
Menag juga mengingatkan bahwa pesan tentang kebenaran menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman yang memasuki era post-truth. Dalam kondisi tersebut, masyarakat dinilai menghadapi tantangan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Ia menyinggung konsep dharma dan adharma dalam ajaran Hindu yang menggambarkan pertentangan antara kebenaran dan ketidakbenaran.
“Dalam era post-truth zaman sekarang ini, di mana kebenaran dan kebatilan itu kadang-kadang sulit kita bedakan. Antara dharma dengan adharma itu sulit kita bedakan,” ungkapnya.
Nasaruddin turut menyoroti pengaruh uang, media sosial, dan politik yang dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu persoalan. Menurutnya, berbagai kepentingan tersebut berpotensi mengaburkan penilaian seseorang terhadap kebenaran.
Karena itu, ia mengajak seluruh umat beragama untuk tetap berpegang pada prinsip kebenaran dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan tertentu.
Menag kemudian menghubungkan nilai tersebut dengan ajaran Islam yang mengenal konsep al-haq (kebenaran) dan al-batil (kebatilan).
“Dalam Islam juga sama, ada yang namanya al-haq, dharma, lawannya adalah al-batil, yaitu adharma. Jadi saya melihat, prinsip dasar beragama kita semua ini sangat-sangat dekat,” tuturnya.
Selain mengajak umat menegakkan kebenaran, Menag menekankan pentingnya keberadaan rumah ibadah sebagai tempat membangun kesadaran spiritual dan memperbaiki diri.
Ia mengibaratkan rumah ibadah sebagai bengkel spiritual, tempat manusia memperbaiki pikiran, melembutkan hati, serta membersihkan batin dari berbagai hal negatif.
“Jadi rumah ibadah ini adalah bengkel spiritual. Bengkel untuk meluruskan pikiran kita yang selama ini bengkok. Untuk melembutkan hati kita yang selama ini mungkin keras. Untuk menyucikan batin kita yang selama ini kotor,” jelasnya.
Terima Kitab Suci Catur Veda
Dalam rangkaian perayaan Deepawali tersebut, Nasaruddin Umar juga menerima kitab suci Catur Veda yang diserahkan Ketua Umum DPP Gema Sadhana, A.S. Kobalen.
Catur Veda merupakan kumpulan empat bagian kitab Weda, yakni Regveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharvaveda.
Penyerahan kitab tersebut merupakan bagian dari upaya Gema Sadhana memperluas akses umat Hindu terhadap kitab suci. Dalam kesempatan itu, perwakilan umat menyampaikan bahwa pihaknya telah mencetak sebanyak 1.000 eksemplar Catur Veda.
Kitab tersebut juga direncanakan akan diserahkan secara simbolis kepada Presiden dalam perayaan Deepawali Nasional pada 9 Januari mendatang.
A.S. Kobalen menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Agama dalam perayaan tersebut. Ia menyebut kunjungan itu sebagai momen bersejarah bagi komunitas Hindu di Murugan Temple.
“Pak Menteri, hari ini menjadi sejarah pertama kali pada saat Dipawali Menteri Agama datang,” ujar Kobalen.
Pada kesempatan yang sama, Nasaruddin juga mengapresiasi kehidupan umat Hindu di Indonesia yang dinilainya mampu berjalan harmonis dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
Ia mengajak seluruh umat beragama terus memperkuat persaudaraan dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Perbedaan keyakinan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun sikap saling menghormati, menghargai, dan menyayangi.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa esensi perayaan keagamaan tidak hanya terletak pada seremoni, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai spiritual diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.






Komentar Via Facebook :